Ketua Magister Prodi ES: Learning by Doing Bangun Kesuksesan Warung Kelontong Madura

INSTIKA Ahad, 9 Juni 2024 12:40 WIB
108x ditampilkan Berita Warung Kelontong Madura Magister Prodi Es

Guluk-guluk, Ketua Magister Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah (ES) Universitas Annuqayah, Dr. H. Tajus Subqi, M.M menegaskan, kesuksesan warung kelontong Madura dilakukan secara learning by doing. Analisis SWOT atau akronim dari Strength (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman) yang dikenalkan oleh Albert A. Humphrey pada dasawarsa 70-60 an seorang konsultan bisnis manajemen Amerika, tidak digunakan secara akademis oleh warga Madura.

Secara tradisional, mereka lebih menggunakan naluriahnya untuk mengembangkan bisnis saat merantau. Berdasarkan hasil survey, orang Madura memiliki paradigma tersendiri saat mengawali bisnisnya.

“Sebelum membuka warung, tentunya mereka sharing atau konsultasi kepada warga yang sukses,” ujarnya saat mengisi acara Mozaik Indonesia yang disiarkan langusng oleh Radio Republik Indonesia, Jumat (06/06/2024).

Kendati mereka tidak begitu tahu secara teoritis tentang Strategi Marketing 4P (Product, Price, Promotion, Place). Melalui nalurinya, mereka akan bertanya kepada warga yang sukses tentang populasi penduduk di area warung yang bakal dibangun, akses jalan, saingan yang bisa dihitung.

“Begitulah cara mereka meraba atau memetakan saat memulai bisnis. Berbeda saat warung mereka sukses, mereka akan memutar otak untuk mengembangkan lebih jauh,” sambungnya.

Bapak Tajus menegaskan, walaupun memiliki modal yang besar, tapi tidak diberkahi bakat yang mumpuni, maka modal itu bisa runtuh. Artinya, warung Madura jangan dilihat enaknya saja, seperti mereka bisa membeli mobil, perhiasan, membangun rumah yang megah dan sebagainya. Di balik itu mereka berdarah-darah saat mengawali bisnis hingga mereka meraup keuntungan yang besar.

Selain itu, faktor spiritual tidak bisa diabaikan oleh orang Madura. Kendati di luar konteks ilmiah, mereka menghindari resiko yang suatu bakal datang. Misalnya, datang ke orang pintar atau kiai mukasyafah, mereka akan bertanya lokasi yang bakal didirikan warung, di samping juga mereka istikharah.

“Ada juga sebagian orang yang tak datang ke orang pintar, lalu mereka meraih keuntungan melalui usahanya di warung kelontong,” ucapnya.

Warung Kelontong Sumenep

Dalam catatannya, warung kelontong Madura bermula dari Sumenep. Berkat kesuksesan yang mereka raih, akhirnya kabupaten-kabupaten lain ingin menikmati lezatnya warung Madura kendati yang mereka lakukan berdarah-darah. Maksudnya, ketika tidak punya modal, mereka pinjam uang ke Bank, gadai Buku Kemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB), dan sebagainya.

“Dengan ketelatenan dan kesabaran saat mengawali bisnis di Jakarta ataupun Bali, Allah melimpahi mereka rezeki kendati mereka tidak menggunakan analisis SWOT. Kini warung Madura bisa membumi dan merajai perbisnisan di sebuah daerah,” tuturnya.

Secara teoritis, analisis SWOT dipakai untuk perencanaan strategis untuk memonitor dan mengevaluasi lingkungan perusahaan, baik dari segi eksternal dan internal untuk tujuan bisnis tertentu, termasuk bisnis warung Kelontong Madura yang rata-rata menjual Sembilan Bahan Pokok (Sembako).

“Analisis SWOT memformulasikan langkah perencanaan strategis bisnis, baik digunakan untuk perusahaan atau untuk diri sendiri,” imbuhnya.  

Kasus di Klungkung, bermula warung Madura membuka jam kerja selama 24 jam dan dijaga sendiri oleh pemilik warung secara bergantian. Jam kerja yang diberlakukan ini, sepertinya menyaingi minimarket modern. Dari sinilah muncul gesekan kecil yang pada akhirnya bisa diredam oleh pemerintah setempat.

“Kecenderungan warung Madura dijaga oleh pemiliknya sendiri. Bagi yang sukses, juragan mencari karyawan yang berpasangan (suami-istri) yang nantinya bisa bagi hasil. Ciri khasnya bisa dilihat dari tata letak barang yang dijual, seperti beras, rokok, pom mini dan sebagainya,” tandasnya.

Pewarta: Firdausi