INSTIKA ADAKAN WORKSHOP TRANSFORMASI KELEMBAGAAN

INSTIKA Sabtu, 19 November 2016 13:51 WIB
605x ditampilkan Galeri Berita

Surabaya - Instika - Instika mengadakan “Workshop Transformasi Kelembagaan dari Institut ke Universitas” di Hotel GreenSA Inn Surabaya, Kamis-Jum’at (17-18/11/2016). Workshop ini diikuti oleh seluruh pengasuh Ponpes Annuqayah, Rektor dan Wakil Rektor, Para Dekan, dan Tim Peralihan Status, dengan nara sumber utama Prof. Dr. H. Abd A’la, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo.

“Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk menyerap, menyaring, dan menyusun gagasan, ide, dan pemikiran dari para masyaikh Annuqayah dan penasihat ahli mengenai transformasi kelembagaan Instika menjadi Universitas,” ungkap Rektor Instika Drs. H. Abbadi Ishomuddin, MA., dalam sambutannya.

Selain itu, lanjutnya, workshop ini dilaksanakan untuk memantapkan langkah-langkah apa yang akan diambil dan menetapkan visi-misi Instika menjadi universitas yang tentunya sesuai dengan keinginan dan tujuan agama.

“Hal ini perlu masukan dari para masyaikh Annuqayah,” katanya.

Sementara, Drs. KH. A. Hanif Hasan, dalam sambutannya mewakili Ponpes Annuqayah menyampaikan bahwa Annuqayah sejak dahulu sudah menerapkan pembelajaran sebagaimana yang diterapkan dalam sistem pendidikan di universitas. Annuqayah tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum.

“Annuqayah memiliki prinsip semua ilmu berasal dari Allah,” terangnya.

Karena itu, katanya, pada tingkat pendidikan Menengah Atas, MA (Madrasah Aliyah) Annuqayah membuka jurusan yang dianggap ilmu umum, yaitu jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dan membuka SMA (Sekolah Menengah Atas) sebagaimana sekolah umum negeri, dengan dipadu dan dilandasi semangat agama yang kuat.

Workshop yang berlangsung selama dua hari ini mendatangkan nara sumber yang berpengalaman dalam membangun universitas, yakni Prof. Dr. H. Abd A’la, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Dari mereka peserta workshop ingin belajar bagaimana membangun universitas Islam.

H. Imam Suprayogo menyampaikan bahwa dirinya sangat menaruh harapan besar terhadap pesantren dalam mencetak manusia yang berakhlak. Pada saat ini, katanya, lembaga-lembaga pendidikan hanya mendidik akal siswanya, tidak mendidik hatinya sebagai sumber akhlak.

“Saya mengharapkan Annuqayah dengan memiliki universitas dapat membangun paradigma baru dalam sistem pendidikannya yang fokusnya pada mendidik hati, bukan pada akal sebagaimana yang banyak diterapkan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Jika hatinya baik maka seluruhnya akan baik,” katanya.

Sementara, H. Abd A’la banyak mengulas mengenai tantangan masa depan yang akan dihadapi masyarakat Indonesia dan bagaimana lembaga pendidikan pesantren menyikapinya. Menurutnya, perjalanan Instika menjadi universitas adalah sebuah kemestian, baik ditinjau dari aspek sejarahnya, teologinya, dan sosiologinya.

H. Abd A’la dan H. Imam Suprayogo banyak memberikan arahan, masukan, saran-saran, dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membangun universitas. Konsep pembangunan Universitas Islam yang ditawarkan dua nara sumber ini, dicoba direfleksikan kembali oleh para masyaikh Annuqayah sehingga transformasi status institut menjadi universitas benar-benar bagus dan berkualitas sesuai dengan visi-misi Pesantren Annuqayah. (Masykur Arif/LP2D)